When Tissue Meets Hand Dryer…

Standard

         Buat saya, tempat nyaman itu adalah tempat yang ditunjang pula dengan fasilitas sanitasi yang nyaman dan bersih. Sayangnya, hotel yang biasa saya pakai untuk training ini sedang merenovasi salah satu toiletnya. Maka, jadilah kami sebagai pengunjung hotel harus memakai toilet lain dan pastinya jadi ngantri dan mengurangi kenyamanan. Yaa, tahu sendiri lah ya kalau perempuan sudah masuk toilet, ketemu kaca dan oh well, you know what to do next, lamaaaa banget! Selain masuk toiletnya yang antri, ngaca antri, ternyata mau cuci tangan setelahnya juga harus antri. Nah, dari hasil ngantri itulah tulisan ini tercipta.

         Jadi gini, tadi pas lagi bete antri dan sibuk merhatiin orang-orang di toilet, saya melihat kecenderungan pengunjung menarik tisu setelah mencuci tangan. Sampai akhirnya saya sadar, bahwa tidak jauh dari tempat saya berdiri ada benda yang namanya hand dryer. Kenapa jarang ada yang memilih memakai hand dryer ya? Pertanyaan itu cukup mengusik benak saya begitu keluar dari toilet. Iseng, saya nge-tweet mengenai hal tsb.

@riyananggra : Di toilet, ada tisu dan hand dryer. Mana yang kamu pilih untuk ngeringin tangan? Kenapa? #nanyaserius

Lalu beberapa menit kemudian munculah mention jawaban dari beberapa teman.

@windamaharani to @riyananggra dyrer..Hemat tisu. Klo pake tisu harus banyak dan kadang-kadang klo kualitasnya jelek, malah serpihan-serpihannya nempel ditangan

Oke. Dapat satu penjelasan. Lanjuut..

@fetrizaas to @riyananggra dari segi cost, pake tisu jauh lebih boros. Dari segi higienis, pake hand dryer bisa lebih berpotensi penyebaran bakteri

@syahputrrra to @riyananggra kalo gua sih paling meper dibaju temen

Hmm… jorok ya booo si Boy ini hehee..and then i asked the real reason

@syahputrrra to @riyananggra kalo gua milih tisu, Yan. Dryer kelamaan, filmnya keburu mulai

Well guess he only using hand dryer while in theatre before or after watching movie :p

@rahadinisekar to @riyananggra  i prefer hand dryer! Karena lebih praktis dan energi yang terbuang lebih sedikit daripada tisu yang lama hancurnya

@shandyksh to @riyananggra i’ll go with tissue. Bisa langsung dibawa pergi. Praktis, ga ngantri. Ga pake listrik.

Those are several and various answer i got from my friends. Thanks guys. Kalau kamu sendiri lebih prefer yang mana?

Apa sih kira-kira the best way to wipe our hands?

Now, lets find out the truth behind tissue VS hand dryer thingy ini.

Image

 

         From an environmental standpoint, paper towels obviously produce substantial paper waste, but hand dryers use significant electricity.

Nah terus gimana dong??!! Berikut beberapa temuan dari hasil browsing :

  1. Study tahun 1993, Universitas Westminster di Inggris, menemukan fakta bahwa orang yang menggunakan hand dryer untuk mengeringkan tangan berpotensi terkena bakteri lebih banyak dibanding mereka yang menggunakan tisu. Kenapa? Karena kabarnya, jika pemakaiannya tidak benar, setengah kering misalnya, bakteri lebih mudah menempel pada telapak tangan yang lembab dan semburan udaranya bisa menyebarkan bakteri lebih mudah. (Sesuai dengan jawaban @fetrizaas, you’re a truly biologist darlaa..)
  2. Menurut penghitungan di website King Country Eco Consumer, jika setiap orang di Washington US menggunakan tisu 10 helai per minggu, maka bisa menghasilkan 33,876 ton sampah tisu/tahun. Bayangkan dan hitung aja berapa banyak sampah tisu klo dijumlahkan dari setiap negara (?).
  3. Tahun 2007, life cycle analysis dari Climate Conservancy menemukan fakta bahwa menggunakan hand dryer dapat berpotensi mengurangi perubahan iklim dan efek rumah kaca daripada menggunakan tisu.
  4. And last but not least, hand dryer was found out for the first time by George Clemens in 1948.

Dari beberapa temuan yang saya dapat, memang sepertinya hand dryer lebih ‘menang’ dibanding tisu, jika dilihat dari sudut pandang tertentu, environmental issue khususnya, tapi tidak dari sisi ke-higienis-annya. Memang sih gak bisa dipungkiri, kelemahan hand dryer adalah it takes two or three times longer to use them than paper towels. Kalau ditelusuri, sepertinya ini menjawab pertanyaan saya di toilet tadi, mengapa orang-orang lebih memilih tisu dibanding hand dryer. Lebih efisien. Seperti yang di-share @syahputrrra dan @shandyksh, mereka prefer pakai tisu untuk lebih menghemat waktu.

Walaupun tisu tidak menggunakan listrik dalam pemakaiannya, tetapi dalam pembuatannya memakai energi listrik yang besar. Menurut Environmental Protection Agency, every single ton of paper produced consumes many more thousands of gallons of water and tons of oiland leave a great deal of waste behind. Selain itu, untuk membuat tisu diperlukan pohon dengan diameter min. 10 cm dan membutuhkan waktu 1825 hari atau 5 tahun untuk mencapai diameter tsb. Kebayang kan lamanya?  

Untuk mengurangi dampak yang sudah terlanjur tercipta, kita sebagai konsumen, punya cara tersendiri untuk mengurangi dampak negatif dari penggunaan dua benda tersebut. Misalnya, dengan mengingat kembali basic rules of “Reduce, Reuse, Recycle”. Sebagai orang yang lebih memilih tisu, cara mengurangi dampak negatifnya adalah dengan menggunakan tisu yang terbuat dari kertas recycle atau mengurangi pemakaian tisu ketika berada di toilet. Gak perlu ambil terlalu banyak, yang penting cukup untuk membersihkan dan mengeringkan. Kalau dirumah, penggunaannya bisa dengan cloth napkins yang bisa di-reuse dan dicuci bersih setelah penggunaannya. Sedangkan untuk pengguna hand dryer, ada baiknya kita mengeringkan tangan sampai benar-benar kering setelah dari toilet, to avoid stimulation of germs in our hands, tentunya.

Well, the good news is that we have plenty of options these days to stay healthy and safe the environment. Just pick one or more and give yourself a hand to make it real.

So, which one do you choose when tissue meets hand dryer?

Choose smart and use wisely. The responsibility is yours 🙂

PS: Feel free to add some info or comments if you want..

Warmest,

Riyan A

*source :

http://seattletimes.com/html/pacificnw/2008016973_footdilemma29.html

http://www.handdryersvspapertowels.com/Resources/ExcelDryerXlerator/Hand%20Dryers%205%20Myths-Web.pdf

ONZE!

Standard

Nothing is sweeter than togetherness we share – November to remember

October moves so fast. Too hectic to handle, too much bless to thank for. Thank you, God.

And now…

Welcome November. Let’s celebrate favorite mistakes, ours, and…that’s it!

Welcome to Indonesia, my friends..

Standard

Just realize that i had big opportunity to share the beauty of Indonesia while doing my current job. Just like now, i just finished assisting Building Success training in Grand Hyatt Hotel. The trainers come from London, they are Sarah and Jo. For Jo, this is her first time visited Jakarta, meanwhile Sarah already visited Jakarta couple years ago. As Sarah mentioned while we have our lunch yesterday, she love Indonesia because of the beauty of the nature. Besides Jakarta, she visited others city, like Yogyakarta, Bali (of course) and Lombok also Gili Trawangan. But, there’s a thing that shocked me, she told that she went to Gili Trawangan for her holiday 18years ago!! Can you imagine how cool she was! She knew and came to Gili Trawangan since a very very long time ago, when there’s still limited information about Lombok and Gili. And look at me? i visited Gili couple months ago, ooh poor me 😦

I shared my story while taking holiday in Gili Trawangan months ago and we agreed to mention Gili Trawangan as one of the ‘Hedon’ island in the world, party everywhere, everytime, as you pleased. She told that Gili still remote area, which is peaceful and very beautiful and clean when she was there. Hmm..i bet it was greater than now.

It such an honor to share knowledge about my lovely country, Indonesia. i usually start from simple thing, like food, batik and simple greeting like “Selamat pagi/siang/malam”, “Terima kasih”, “Apa kabar?”, etc. I found out that most of native people love Nasi Goreng, Sate Ayam, and Kerupuk. They also like spicy food, which is we have lots of Sambal, the secret recipe to complete spicy food taste greater. Unfortunately, both of them had tight schedule and have to go back to London tonight, so we dont have some time to explore more about Jakarta.

That’s not my first experience with my expatriate trainer. The most remarkable and memorable one happened three weeks ago. Her name is Leslie, middle age woman come from Ohio, United Stated. She’s one of a kind, shared lots of story about her personal life and also asked about mine. She gave lots of meaningful feedback of my story, great advice and very supporting.

As that was her 1st time come to Jakarta, its such an honor (again) for me and my friend to invited her to hang out and enjoying Jakarta. We went to Inul Vista for ‘karaoke’, having fun together and finished in Sate Khas Senayan to have dinner. Until now, we do keep in touch through email. And  i’m excited to meet her again on the 1st week of December, yes she will be the trainer of my upcoming training program in Jakarta. It will be another great experience and lovely moment, i guess.

Our version of “Story of Us”

Standard

“Gak penting siapa yang start duluan, kita liat aja siapa yang berhasil nyampe finish lebih dulu”.

Sebenarnya tulisan kali ini dilatarbelakangi oleh kisah cinta Vino G. Bastian dan Marsha Timothy yang baru-baru ini saya tonton di infotainment. Terus terang, saya cukup kaget dan mempertanyakan kebenaran berita tersebut sebelum akhirnya menyaksikan sendiri berita bahagia itu di TV. Kenapa kaget? Karena selain saya sudah jarang menikmati berita artis di TV, hal lain yang saya tahu adalah kedua artis tersebut sebelumnya menjalin kisah cinta dengan orang lain (dan sepertinya terlihat adem ayem dan sangat cocok, setidaknya menurut pandangan saya).

Sebelumnya, Vino G. Bastian cukup lama dikabarkan dekat dengan Upi, seorang sutradara wanita ternama Indonesia. Disisi lain, Marsha telah lama menjalin cinta dengan Fachri Albar. Dari kisah cinta tersebut, saya sangat suka dengan pasangan Marsha dan Fachri, saya anggap mereka pasangan sempurna, ganteng-cantik dan saling setia. Kabarnya, perbedaan agamalah yang menahan mereka untuk beranjak ke jenjang berikutnya. Namun, nyatanya takdir berkata lain. Setelah sekian lama mengarungi lika-liku percintaan bersama pasangan masing-masing, namun hati mereka tidak berlabuh disana.

                Banyak insight yang bisa diambil dari kisah cinta Vino dan Marsha. Bahwa hal yang paling mendasar adalah sekeras apa pun manusia berusaha dan merancang segala sesuatunya, jika Tuhan tidak berkenan, maka tidak akan terwujud, begitu pun sebaliknya. Di dunia nyata dan dari kisah orang-orang terdekat cukup banyak kasus serupa yang saya temui. Bertahun-tahun menjalin cinta, terlihat seperti sepasang kekasih yang saling melengkapi dan tidak jarang membuat iri, namun pada akhirnya harus dihadapi pada kenyataan tidak akan pernah mengikat janji untuk hidup bersama sampai akhir hayat. Ini bukan mengenai perkara siapa pacaran paling lama atau kisah siapa yang berjalan mulus dan baik-baik saja. Jodoh adalah sebuah takdir. Takdir yang telah Tuhan gariskan dan tetapkan bagi para hamba-Nya. Bahwa segala sesuatu menuju takdir Tuhan pasti akan dimudahkan jalannya.

                Yang juga penting untuk digarisbawahi adalah bukan berarti setiap hubungan yang penuh dengan rintangan dan penuh cobaan pasti selalu mengarah pada ‘tidak jodoh’. Bukan itu pointnya. Mungkin Tuhan memang ingin menguji makhluk-Nya dengan memberi cobaan sebelum akhirnya menyatu. Sekali lagi, jika memang takdir, pasti dimudahkan menuju hal tersebut. Jadi, sesengit apapun pertengkaran dalam suatu hubungan, jika memang mereka diciptakan satu sama lain untuk saling melengkapi, maka selalu akan ada jalan yang membawa mereka bersatu kembali, saling memaafkan, dan mengesampingkan perbedaan. Yang perlu dilakukan adalah make the most of everything, everytime, everywhere with the one you’re sure of and in love with. Sehingga jika pada akhirnya memang tidak bisa bersatu, penyesalan tidak singgah dan menghantui sepanjang hidup.   

#NoteToSelf : We may not always end up where we thought we were going, but we will always end up where we were meant to be

Sebagai penonton, saya sangat terhibur melihat tayangan pernikahan Marsha dan Vino, turut merasakan senyum bahagia yang mengembang begitu tulus dan cinta yang begitu hangat. Bahkan kisah cinta mereka diabadikan dalam sebuah video pendek berjudul “Story of Us” yang saat ini ramai diperbincangkan khalayak karena banyak menginspirasi.

Well, It always put a smile in your face knowing something good happened and ended in a beautiful way, even its not the end yet, but its happy, indeed.

Selamat Berbahagia 🙂

Vino & Marsha

Dan, lagi…

Standard

Jika pada akhirnya kita bersama lagi

dan ingkar janji untuk menyudahi

Maka, salahkan saja kenyataan yang selalu membawamu kembali padaku

atau nyatanya, jelas sudah aku memang tak pernah mampu melupakanmu

Seperti malam ini…

Disini, kembali (lagi).

 एक अक्तूबर

Saat Malam Tiba

Standard

Saat malam tiba, kamu harusnya tahu

bahwa tempat kesukaanku adalah melingkar dipinggangmu

menyelinap dibalik punggungmu

membaui setiap lapisan kulitmu

merekam setiap ekspresi dan kata yang keluar dari bibirmu

Saat malam tiba, aku menikmati setiap detik bersama

menghirup bebas udara kota 

bercampur kepulan asap rokok yang kau hembuskan ke angkasa

Sofa cokelat tua adalah benda kenangan yang tersisa

dimana tanpa banyak kata, kamu dan aku melebur menjadi kita

Dan saat pagi menyapa..

kita pun bukan siapa-siapa

Setidaknya, biarkan aku mencerna

bahwa semua itu nyata adanya

Saat malam tiba..